Home Blog FENOMENA GENERASI MENUNDUK

FENOMENA GENERASI MENUNDUK [BAGIAN 2]

53
0
SHARE

Fenomena Generasi Menunduk [BAGIAN 2] – Fenomena generasi menunduk dikaitkan pada aktivitas pemuda kita, anak-anak kita, atau bahkan orang-orang dewasa, yang sudah membentuk sebuah kebiasaan untuk bergantung pada gadget. Pemandangan ini menjadi sebuah kebiasaan yang umum, yang pada akhirnya membuat orang-orang menciptakan sebuah pemakluman.

“Maklum, anak muda lagi suka-sukanya main media sosial. Yang penting, kan, nggak lihat pornografi, nggak masalah.” atau “Maklum, anak kecil lagi seneng liat youtube, pokoknya kan lihatnya kartun, bukan sinetron. Jadi, nggak masalah.” Karena seringnya kita dihadapkan pada pemandangan anak-anak atau orang dewasa yang sangat antusias menonton konten lewat gadget mereka ketimbang menghabiskan waktu untuk bersosialisasi, kita menjadi menutup mata atas kenyataan bahwa kita harus mengubah fenomena generasi menunduk dan menjadi maklum akan hal tersebut.

Memang penting untuk tidak terpapar dengan konten-konten pornografi bagi generasi kita, tetapi bukan berarti kita harus maklum ketika mereka menghabiskan sebagian besar hari-harinya untuk berkutat dengan handphone, melupakan jam belajar dan sekolah, mengabaikan kewajibannya, seperti beribadah dan melakukan aktivitas normalnya sebagai anak. Memang penting untuk memantau tontonan apa yang anak kita lihat, dan membatasi akses mereka terhadap tayangan yang tidak sesuai dengan umur mereka. Tetapi, bukan berarti kita harus maklum jika mereka ternyata lebih senang nonton youtube, daripada bermain diluar rumah bersama teman-temannya.

Kalau semua orang, apalagi orang tua, pada akhirnya menjadi maklum atas hal-hal itu, bagaimana kita bisa mengubah persepsi generasi kita akan pentingnya bersosial dengan orang lain? Menjadi sebuah kebiasaan, bukan berarti kita harus memberikan penerimaan atas hal yang kita anggap bisa berpotensi ke arah yang negatif. Bayangkan, ketika generasi kita, anak-anak kita, nantinya lebih senang memainkan permainan online; mengabaikan waktu, menjadi pasif dengan dunia nyata, menjadi tidak bisa dikendalikan sikapnya, bagaimana? Bagaimana jika generasi kita menjadi addict dengan dunia maya, ketika sebenarnya kehidupan yang harus mereka jalani adalah dunia nyata, yang jelas memerlukan keahlian diri yang perlu dilatih, bukan keahlian semu yang bisa menaklukkan musuh di sebuah game online.

Coba sejenak luangkan waktu untuk mengunjungi sebuah kedai kopi atau cafe yang menyediakan fasilitas WiFi. Anda akan melihat begitu banyak generasi menunduk yang sedang sibuk memainkan ponselnya, sambil sesekali menyeruput minuman yang dipesannya. Coba Anda lihat, sudah berapa menit bahkan jam, mereka tidak menaruh minat apapun terhadap orang-orang yang ada di sekelilingnya? Mereka menjadi apatis, heboh sendiri, cuek, dan masa bodoh dengan keadaan di sekeliling mereka. Padahal, menjalin sebuah komunikasi yang baik dengan orang-orang baru akan meningkatkan kualitas kita sebagai manusia.

Dengan adanya fenomena generasi menunduk yang kian hari kian memprihatinkan, kita perlu ambil bagian untuk setidaknya mengurangi ketergantungan atas gadget pada anak-anak kita. Tidak hanya anak-anak, barangkali pemuda kita yang juga merupakan harapan bangsa, dan orang-orang dewasa yang seharusnya bisa menjadi contoh bagi anak-anak, untuk mengurangi intensitas mereka dalam menggunakan gadget.

  1. Untuk anak-anak, pembiasaan adalah kunci;

Melalui kita sebagai orang tua, masa depan anak begitu digantungkan. Ketika kita bijak untuk melakukan pembiasaan positif kepada anak, maka anak-anak kita akan terbentuk dari apa yang sudah kita tanamkan kepada mereka. Orang tua memegang kunci keberhasilan atas anak-anaknya, maka sudah selayaknya orang tua memberikan batasan yang jelas untuk anak-anak.

Memberikan batasan yang jelas bukan berarti kita sebagai orang tua melarang sepenuhnya penggunaan gadget pada mereka. Kita tidak mungkin membiarkan anak-anak kita kudet sementara teknologi dan informasi semakin berkembang secara dinamis.

Memberikan batasan atau jadwal untuk menggunakan gadget sangat penting dilakukan. Anda bisa memberi durasi waktu untuk bermain gadget, misalkan 1 jam sehari. Hal tersebut juga melatih kedisiplinan anak untuk memahami bahwa gadget tidak boleh digunakan terus-menerus. Jika sudah membuat aturan baku kepada anak, maka Anda sebagai orang tua juga harus disiplin terhadap diri sendiri, dengan mengurangi intensitas penggunaan gadget di depan anak-anak.

Orang tua adalah contoh bagi anak-anak, maka lakukan apa yang juga Anda berlakukan pada mereka, termasuk pendisiplinan waktu penggunaan gadget.

  1. Kita tidak mungkin mengubah semua orang, maka mulailah mengubah diri sendiri;

Benar, kita tidak mungkin mengubah semua orang agar tidak menjadi generasi yang addict dengan teknologi. Tetapi, kita bisa mengubah diri kita untuk tidak menjadi salah satu dari banyaknya orang-orang yang terlampau tidak mau tahu tentang ruginya bermain dengan gadget terus-menerus.

Mencari informasi mengenai dampak dan bahaya penggunaan gadget yang berlebihan, menyimak diskusi tentang hal yang berhubungan dengan perkembangan teknologi, bertukar pikiran dengan orang-orang yang positif terhadap perubahan, adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan dan mulai dari diri kita sendiri. Dengan mengubah diri kita menjadi lebih baik, maka kita mengurangi satu peluang bertambahnya generasi menunduk di Indonesia, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here