Home Blog FENOMENA GENERASI MENUNDUK

FENOMENA GENERASI MENUNDUK [BAGIAN 1]

10
0
SHARE

Fenomena Generasi Menunduk [BAGIAN 1] – Membicarakan tentang generasi zaman now memang tidak ada habisnya. Ada-ada saja fenomena trend yang belakangan membuat kita mendadak bisa membuka mata atas fakta yang terjadi. Bagus jika trend itu berdampak baik bagi anak negeri, tetapi bagaimana jika trend itu hanya bisa merusak secara perlahan-lahan?

Mari kita lihat sekeliling, apakah kita pernah menemukan satu hari dimana tidak ada orang-orang yang sibuk dengan gadget di tangannya? Pernahkah kita mendapati dalam sebuah kesempatan, anak-anak tidak terbawa suasana dengan game yang dimainkan di handpohone-nya, hingga mengabaikan suara-suara orang dewasa yang ada di sekitar mereka? Pernahkah kita mendapati, di dalam bis, di halte, di mall-mall besar, di barisan antrean swalayan, orang-orang tidak ada yang sibuk dengan handphone-nya?

Maka, selamat datang. Selamat datang di era dimana fenomena generasi menunduk menjadi hot topic yang sedang trend. Selamat datang di era dimana fenomena generasi menunduk menjadi sebuah habit atau kebiasaan, sebuah pembentukan dari keseharian yang berulang, dan sebuah konspirasi dari duet maut yang tak bisa kita elakkan: internet dan gadget.

Saya dan Anda adalah salah dua yang sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai bagian generasi menunduk. Tak bisa kita elakkan, kehidupan kita tidak bisa lepas dari peran teknologi. Segala macam akses yang mudah, cepat, praktis, dan efisien, sebagian besar dikendalikan oleh peran teknologi. Lalu, apakah kita salah ketika memanfaatkan kemudahan teknologi itu dalam kehidupan sehari-hari?

Mari kita ulas bersama, tanpa justifikasi yang berlebihan, tetapi lebih ke kesadaran bersama sebagai makhluk sosial. Sudut pandang yang lebih positif akan mengarahkan kita pada penerimaan, bukan? Dan, kita bisa melihat dengan lebih jelas sisi yang lebih baik dari sebuah fenomena yang terjadi belakangan.

Kita perlu berbangga sebab lahir dalam era perkembangan teknologi yang semakin memudahkan kita dalam bertransaksi, menjalankan berbagai aktivitas, memenuhi kebutuhan, dan lain sebagainya. Kita perlu berbangga karena telah hidup di tengah-tengah kemegahan dari sebuah penemuan spketakuler, gadget canggih yang dikeluarkan oleh pabrik setiap tahunnya, internet yang menyediakan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita, dan segala hal yang memudahkan kita dalam beraktivitas. Kita perlu mensyukuri setiap perkembangan dunia yang selalu dinamis, membuat kita terbentuk menjadi persona yang lebih pintar menggunakan gadget dan menciptakan kemudahan kita sendiri lewat fasilitas teknologi informasi yang lebih instan dan praktis.

Tetapi, mari kita lihat, apa beda kehidupan yang sudah terkungkung dalam fenomena generasi menunduk ini, dengan kehidupan generasi di tahun dimana belum ada gadget yang berkembang secanggih sekarang? Interaksi sosial. Ya, interaksi sosial menjadi aspek terpenting yang perlu kita pandang dari fenomena yang sedang trend sekarang ini. Interaksi sosial adalah gerbang dimana kita mampu memperoleh banyak informasi dari orang di sekeliling kita, tanpa perlu menunduk menatap layar ponsel dan searching di internet. Interaksi sosial adalah sarana dimana kita bisa langsung menatap mata lawan bicara kita, tanpa perlu repot-repot menunjukkan emosi lewat emotikon pesan di aplikasi chatting di handphone kita.

Begitu sederhananya sebuah interaksi sosial, namun menjadi sedikit rumit saat berada di era digital. Miris ketika kita lebih sering melihat orang-orang yang menunduk menatap gadget-nya, bercengkrama dengan banyak orang di dunia maya, cekikikan sendiri, dan tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Begitu miris ketika kita lebih sering mendapati orang-orang di fasilitas umum lebih tertarik dengan handphone-nya daripada mengajak orang-orang di sisi kanan-kirinya untuk hanyut dalam perbincangan hangat tentang apa yang terjadi di kota seharian ini, sambil tak lupa mengulas senyum ramah tanda umpan balik dari perbincangan mereka.

Saya tidak mengatakan bahwa terbentuk sebagai generasi menunduk adalah hal yang buruk. Hanya saja, tidakkah kita tergerak untuk mengubah situasi ini menjadi lebih baik? Menguasai teknologi adalah hal yang sangat baik, tetapi perlu ada sedikit penempatan yang tepat perihal kapan kita perlu belajar berteknologi dan kapan kita menjalin relasi dengan orang-orang yang baru kita temui. Perlu ada keseimbangan antara kapan kita perlu fokus dengan gadget dan kapan kita perlu menjadi pendengar dan pencerita atas orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kita perlu memanusiakan keberadaan mereka, dibanding memeriahkan sebuah perayaan persahabatan semu yang terjalin di dunia maya.

Kita perlu tumbuh menjadi makhluk sosial yang memahami apa itu hakikat sosial, tanpa harus melakukan pembelaan mengenai alasan kenapa kita harus terus menatap layar ponsel dan mengabaikan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here