Home Blog HUKUM BERHUTANG DENGAN KELUARGA

HUKUM BERHUTANG DENGAN KELUARGA

51
0
SHARE

Hukum Berhutang dengan Keluarga – Masalah utang piutang merupakan sesuatu yang patut diwaspadai. Biar bagaimana pun juga, hutang bisa menjadi masalah besar jika kedua belah pihak tidak saling pengertian. Hutang bisa mengakibatkan perpecahan antar teman, antar sahabat, bahkan antar keluarga. Maka dari itu, dalam artikel ini, kita akan mengetahui bagaimana sebaiknya hukum berhutang dengan keluarga, sehingga kita terhindar dari perpecahan dan selamat dari jilatan api neraka suatu saat.

  1. Hukum hutang suami dengan istrinya;

Dalam Agama Islam, suami yang memiliki kelebihan harta dan berniat untuk berhutang kepada istrinya, wajib untuk membayarkannya. Tetapi, jika istri merelakan harta tersebut dipakai oleh suaminya, apa lagi untuk kebutuhan bersama, maka si suami tidak punya kewajiban untuk membayarkan hutang tersebut.

  1. Hukum hutang istri kepada suaminya;

Pada dasarnya dalam Islam, tidak ada istilah istri berhutang kepada suaminya. Karena istri merupakan tanggung jawab dan kewajiban suami. Oleh sebab itu, jika si istri memiliki kewajiban hutang kepada orang lain, sebaiknya dengan menyertakan persetujuan suami.

  1. Hukum anak berhutang kepada orang tuanya;

Hukum anak yang berhutang kepada orang tuanya, ketika si orang tua masih hidup maka wajib dilunasi. Tetapi ketika orang tua sudah tidak ada, maka dari hak waris yang dia miliki terlebih dahulu harus dia bayarkan kepada hak waris dari orang tuanya selain dirinya, misalnya saudara-saudara kandungnya.

  1. Hukum orang tua yang berhutang kepada anaknya;

Sebagai anak laki-laki yang memiliki kemampuan untuk menafkahi orang tuanya, sebaikanya si anak memberikan nafkah materi kepada orang tuanya, jika si orang tua membutuhkan. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan menganggap bantuan yang wajar diberikan sebagai hutang kepada orang tua.

Adapun orang tua yang meminjam uang kepada anak perempuannya, maka sebaiknya si orang tua dan anak perempuan sama-sama paham bagaimana hukumnya. Apa lagi uang tersebut dari suami si anak, maka sebaiknya dikembalikan. Berbeda halnya ketika si anak dan menantu mengikhlaskan uang tersebut.

  1. Hukum saudara kandung berhutang kepada saudaranya;

Saudara kandung yang meminjam uang kepada saudaranya, hukumnya sama dengan menantu kepada mertua, dan sebaliknya, saudara ipar yang saling berhutang, atau hutang paman atau bibi dengan kemenakannya, dan sebaliknya. Hukum hutang dari semua hubungan tersebut adalah wajib dilunasi dan dianggap sama dengan hukum hutang kepada teman, sahabat, atau orang lain yang tidak memiliki ikatan darah.

Banyak yang menganggap hukum berhutang kepada keluarga itu tidak penting, karena keluarga adalah tempat bernaung, tempat mencurahkan isi hati, dan lain sebagainya. Padahal jika sembarangan menganggap hutang sebagai suatu hal yang remeh, sedangkan menyakiti salah satu pihak atau bahkan keduanya, kelak ketika akan menghadap kepada Allah, kita akan membawa beban yang teramat berat di punggung kita. Naudzubillah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here